Diabetes mellitus (DM) secara klinis didefinisikan sebagai suatu keadaan yang diakibatkan oleh defisiensi insulin absolut atau relatif yang dapat berkembang ke arah hiperglikemia dan sering dihubungkan dengan komplikasi mikrovaskular dan makrovaskular spesifik. Diagnosis klinis DM akan dipikirkan bila ada keluhan khas DM berupa poliuria, polidipsia, polifagia, lemah dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya. Pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosis DM adalah ; glukosa darah puasa, glukosa darah sewaktu, glukosa darah postprandial (pp), dan tes toleransi glukosa oral (TTGO). Diagnosis DM ditegakkan melalui suatu rangkaian atau alur pemeriksaan laboratorium yang telah ditetapkan melalui suatu kesepakatan atau konvensi dari lembaga atau perhimpunan yang berdasarkan penelitian-penelitian para ahli.
Pengobatan atau pengendalian penderita DM bertujuan untuk mendapatkan kadar glukosa darah yang tetap normal atau mendekati normal. Hal ini berdasarkan anggapan bahwa kontrol diabetik yang optimal merupakan sarana untuk mencegah atau menunda komplikasi DM jangka panjang seperti neuropati, retinopati, nefropati dan mikroangiopati atau makroangiopati (aterosklerosis). Untuk pemantauan hasil pengobatan DM dapat dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah puasa, glukosa darah sewaktu, glukosa darah pp, glukosa darah kurva harian dan HbA1c serta fruktosamin. Kadar lemak darah juga telah dimasukkan sebagai panel pemeriksaan pemantauan hasil pengobatan. Kadar HbA1c dapat menggambarkan kadar glukosa 2-3 bulan sebelumnya. Karena itu telah dimasukkan dalam panel pemantauan hasil pengobatan.
KORELASI HbA1c DENGAN KADAR GLUKOSA DARAH
HbA1c merupakan kombinasi glukosa dan hemoglobin dewasa (HbA). Hemoglobin terdiri dari 4 rantai polipeptida (globin), masing-masing mengandung satu gugus heme. Hemoglobin utama yang ditemukan pada orang dewasa normal adalah HbA. HbA2 dan HbF berada dalam jumlah kecil.
Tabel 1 : Normal Human Hemoglobins
No | Name | Designation | Molecular Structure | Adults (%) | Newborns |
1 2 3 | Adult hemoglobin Hemoglobin A2 Fetal hemoglobin | Hb A Hb A2 Hb F | a2 b2 a2 d2 a2 g2 | 97 2,5 < 1 | 20 O,5 80 |
HbA bereaksi dengan glukosa (atau karbohidrat lain atau turunannya) membentuk hemoglobin terglikosilasi yang dikenal dengan nama HbA1. Ada 3 macam subfraksi HbA1 yaitu HbA1a (HbA + fruktosa 1,6-difosfat atau HbA + glukosa-6-fosfat), HbA1b (HbA + tidak diketahui) dan HbA1c (HbA + glukosa). HbA1c merupakan fraksi yang paling penting dan kira-kira mencapai 70% dari total HbA1.
Tabel 2 : Glycosylated Hemoglobins in Normal and Diabetic Individual
No | Hemoglobin | b-Terminal Group | Normal (%) | Diabetes (%) |
1 2 3 | HbA1a1 HbA1a2 HbA1b HbA1c | Fructose 1,6-diphosphate Glucose-6-phosphate Unknown Glucose | 0,19 0,19 O,48 3,3 | 0,2 0,22 0,67 7,5 |
Mean ± 1 SD, 20 normal subjects and 75 adult diabetics.
Hemoglobin terglikosilasi berakumulasi dalam sel darah merah dan berada dalam bentuk ini selama masa hidup sel. Eritrosit yang bersirkulasi mempunyai waktu paruh rata-rata 60 hari, sehingga kadar HbA1c tidak berubah dengan cepat. Sejumlah peneliti telah menunjukkan korelasi antara HbA1c dan pemeriksaan glukosa darah. Jumlah HbA1c ini berhubungan langsung dengan kadar glukosa darah rata-rata dalam darah. Pada orang normal 3-6% HbA-nya terglikosilasi, sedangkan pada penderita DM persen HbA1c dapat mencapai 2 atau bahkan sampai 3 kali lipat, tergantung derajat hiperglikemia.
Dengan menormalkan kadar glukosa darah pada penderita DM, nilai HbA1c secara perlahan-lahan akan mendekati normal. Nilai HbA1c tunggal yang diperiksa setiap 2-3 bulan sekali memberikan indeks kontrol glukosa darah terintegrasi selama bulan-bulan tersebut dan para klinisi dapat melihat secara obyektif kualitas pengendalian penderita DM.
MANFAAT PEMERIKSAAN HbA1c PADA PENDERITA DM
Tujuan dari terapi DM adalah untuk mendapatkan kadar glukosa darah yang tetap normal atau mendekati normal. Hemoglobin terglikosilasi telah diakui sebagai permeriksaan yang menggambarkan kadar glukosa darah harian rata-rata dan derajat ketidak seimbangan karbohidrat dua bulan yang lalu (lebih baik dari kadar gula darah puasa ).
Tabel 3 : Kriteria Pengendalian DM
No | Parameter Tes | Baik | Sedang | Buruk |
1 | Glukosa darah puasa Glukosa darah 2 jam pp | 80 –120 80 – 160 | 120 –140 160 - 200 | > 140 > 200 |
2 | HbA1c | 4 – 6 | 6 – 8 | > 8 |
3 | Kolesterol total Kolesterol-HDL Trigliserida : - tanpa PJK - dengan PJK | < 200 > 40 < 200 < 150 | 200 – 240 35 – 40 200 – 400 < 200 | > 240 < 35 > 400 > 200 |
HbA1c merupakan kombinasi glukosa dan hemoglobin dewasa (HbA). Jumlah hemoglobin dewasa yang terglikosilasi membentuk HbA1c berhubungan langsung dengan kadar glukosa darah rata-rata dalam darah. Tidak seperti tes urine dan glukosa darah, yang dipengaruhi oleh keadaan saat pemeriksaan.misalnya diet yang ketat menjelang pemeriksaan. Pemeriksaan HbA1c tidak dipengaruhi oleh kadar glukosa darah saat itu, tapi merupakan indikator kadar glukosa darah rata-rata beberapa bulan sebelumnya.
Kadar HbA1c menggambarkan kontrol glikemik kadar glukosa 2-3 bulan sebelumnya. Karena itu dianjurkan untuk diperiksa setiap 3 bulan sekali, setidaknya 2 kali setahun. Fruktosamin mengambarkan kadar glukosa 2-3 minggu sebelumnya. Penggunaan kombinasi kedua pemeriksaan yakni HbA1c dan fruktosamin bermanfaat karena walaupun keduanya serupa menggambarkan kontrol glikemik tetapi berbeda jangka waktu kadar glukosa yang digambarkannya. Kadar fruktosamin berguna untuk memantau yang lebih cepat sedangkan HbA1c untuk jangka waktu yang lebih lama.
FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HASIL HbA1c
Ada beberapa keadaan dimana salah satu parameter terpengaruh, sedangkan yang lainnya tidak misalnya kadar HbA1c terganggu / tidak tepat pada keadaan dengan anemia hemolitik, hemoglobinopati, dan hemakromatosis serta retikulositosis. Thalasemia dan hemoglobinopati seperti Hb C, Hb S, Hb E, dll yang menyebabkan usia eritrosit memendek menyebabkan penurunan kadar HbA1c. Pada cara kromatografi penukar kation Hb C dan Hb S terhitung pada Hb total dan menurunkan hasil perhitungan HbA1c. Sebaliknya Hb F, Hb H dan Hb Bart mungkin menyebabkan HbA1c tinggi palsu, tergantung pada cara analisis.
PENUTUP
Pemeriksaan HbA1c merupakan salah satu tes dalam panel pemantauan hasil pengobatan DM. Kadar HbA1c dapat menggambarkan kadar glukosa darah rata-rata dalam 2-3 bulan sebelumnya dan tidak dipengaruhi oleh kadar glukosa darah saat pemeriksaan. Pemeriksaan HbA1c dianjurkan 3 bulan sekali atau minimal 2 kali setahun.
…………………………………….wmh………………………………………….
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusgan manffat e apa
BalasHapus