Jumat, 02 Desember 2011

HIV-AIDS : Butuh Perubahan Perilaku


Tanggal 1 Desember, setiap tahunnya selalu diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia. Namun Epidemi penyakit HIV/AIDS terus melaju bagai banjir bandang yang tak terbendung. Berdasarkan data resmi Kementerian Kesehatan Indonesia, sudah 26.400 orang penderita AIDS dan 66.600 orang terinfeksi / positif HIV. Dari angka itu lebih dari 70 persen  adalah generasi muda usia produktif yang berumur antara 20-39 tahun.  Bahkan, Indonesia merupakan negara dengan penularan HIV tercepat di Asia Tenggara. Yang lebih memprihatinkan lagi bahwa pengidap HIV bukan hanya kelompok risiko tinggi saja, tetapi juga dari kalangan keluarga dan masyarakat biasa, termasuk ibu-ibu rumah tangga. Fakta yang mencengangkan ini diungkap oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi DKI Jakarta bahwa kalangan tenaga nonprofesional/karyawan menempati urutan tertinggi pengidap HIV/AIDS di DKI Jakarta. Selain karyawan, posisi tertinggi kedua pengidap HIV/AIDS adalah ibu rumah tangga disusul oleh kaum wiraswasta. Ketiga kelompok ini  bisa dikatakan minim risiko oleh karena memiliki edukasi cukup, termasuk informasi seputar HIV/AIDS dan risikonya, kenyataannya tidak demikian. Kadang, pendidikan tidak berjalan beriringan dengan perilakunya. Banyak orang mengetahui risiko HIV/AIDS dan penyakit kelamin lainnya, tapi menganggap diri tidak mungkin akan terperosok ke dalamnya. Mereka membodohi diri sendiri. Mereka berpikir hal itu tidak akan terjadi kepada dirinya. Dari data orang dengan HIV AIDS (Odha) yang mengetahui dirinya terinveksi HIV hanya sekitar 20 persen. Dengan kata lain terdapat delapan dari 10 orang tidak mengetahui bahwa dirinya sudah terinveksi HIV dan berisiko menularkan kepada orang lain. Hal ini juga turut andil dalam peningkatan kasus HIV di Indonesia.
Berbeda dengan data lima tahun silam, penderita HIV / AIDS kebanyakan dikarenakan oleh penggunaan jarum suntik bergantian oleh pengguna narkoba, saat ini perilaku heteroseksual atau seks bebas menjadi penyebab dominan dalam penyebaran HIV / AIDS di Indonesia. Pada tahun 2006, kecenderungan transmisi HIV / AIDS di Indonesia didominasi oleh jarum suntik mencapai 54,42 persen, sementara seks bebas hanya 38,5 persen. Kondisi tersebut berbalik 180 derajat pada lima tahun kemudian dengan persentase jarum suntik menurun jadi 16,3 persen, sementara seks bebas meningkat 76,3 persen. Artinya, mayoritas penularan HIV/AIDS di Indonesia saat ini dilakukan melalui hubungan seks. Penderita dapat terinfeksi HIV dari orang-orang yang telah terinfeksi. Darah, cairan vagina, air mani, serta air susu orang yang terinfeksi memiliki virus HIV dalam jumlah yang cukup untuk dapat menginfeksi orang lain. Kebanyakan orang terinfeksi oleh karena ; berhubungan seks dengan orang yang terinfeksi, berbagi jarum suntik dengan orang yang terinfeksi, terlahir dari ibu yang terinfeksi atau minum air susu ibu yang terinfeksi, memperoleh transfusi dari darah yang terinfeksi dan penyebab yang tidak diketahui.   Tidak pernah ada bukti bahwa HIV dapat ditularkan melalui air mata atau air liur, namun orang mungkin dapat terinfeksi melalui seks oral, atau pada kasus-kasus yang sangat jarang, melalui ciuman dalam, khususnya bila orang tersebut memiliki luka terbuka di dalam mulut atau mengalami gusi berdarah. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah dalam penanggulan masalah HIV dan AIDS.
Akan tetapi epidemi HIV dan AIDS terus akan berlanjut seiring dengan maraknya seks bebas dan pemakaian narkoba suntik.  Mungkin perlu adanya perubahan perilaku walaupun sedikit saja apabila tidak dapat merubah secara radikal drastis. Perlu diingatkan kembali bahwa virus HIV itu berada di dalam cairan darah, cairan vagina, air mani, serta air susu orang yang terinfeksi. Sehingga ada usaha atau perilaku untuk menghindari kontak dengan cairan tubuh tersebut, apalagi cairan tersebut berasal dari orang yang tidak diketahui status serologisnya (reaktif-HIV) dengan jelas. Dan satu hal yang menjebak bahwa mereka yang telah mengidap HIV tidak menunjukkan gejala sakit atau tampak sehat-sehat bahkan hasil tes HIV mereka belum menunjukkan HIV-positif. Gejala sakit akan nampak 4-10 tahun kemudian setelah penderita masuk pada status AIDS.  
Berikut ini adalah tips merubah perilaku agar terhindar dari kontak dengan cairan tubuh yang patut diduga mengandung virus HIV.
1. Cairan Darah atau Produk Darah Lainnya.
-         Transfusi darah sudah merupakan terapi cairan yang tidak dapat dihindari bahkan dapat menyelamatkan jiwa bila dilakukan dengan benar. Darah Donor yang diolah oleh Unit Transfusi Darah sudah disaring bebas dari HIV dan bibit penyakit lainnya yang dapat ditularkan melalui cairan darah. Oleh karena jangan sekali-kali menggunakan darah donor tanpa melalui Unit Transfusi Darah.
-         Hindari kontak tubuh dengan cairan darah tanpa menggunakan alat pelindung diri. Oleh karena dikuatirkan kulit kita tidak utuh (lecet atau luka) sehingga cairan darah tersebut dapat masuk langsung ke tubuh kita.
-         Jangan menggunakan alat-alat yang diduga sudah kontak dengan cairan darah secara bergantian tanpa disterilkan terlebih dahulu. Sedapat mungkin gunakan alat secara pribadi atau disposable sekali pakai. Alat-alat tersebut misalnya ; jarum suntik, jarum tato, pisau cukur, gunting kuku, pencet jerawat dan alat-alat lainnya seperti alat pemuas seks.
2. Cairan Sperma atau Cairan lainnya dari alat Kelamin Pria.
-         Jangan membuang atau menyemprotkan cairan sperma Anda di sembarang tempat atau berganti-ganti pasangan seks.
-         Yakinkan pula pasangan Anda Jangan melakukan hubungna sex bebas berganti-ganti pasangan.
-         Jangan menumpahkan cairan sperma Anda di mulut (oral seks) atau di dubur (anal seks) pasangan Anda baik homo atau hetero.  Oleh karena mulut dan dubur mudah lecet saat berhubungan seks lagipula cairan sperma yang ada di dubur tidak mudah tumpah keluar (dibersihkan) dibandingkan yang ada di vagina.
-         Jika Anda tidak dapat menghindari perilaku seksual seperti di atas, sebaiknya berubahlah sedikit saja dengan memakai kondom yang baik dengan benar ketika berhubungan seks.
3. Cairan Vagina atau Cairan lainnya dari Liang Senggama
-         Hindari penis Anda kontak dengan berbagai merek cairan vagina dengan kata lain berganti-ganti pasangan seksual.
-         Jangan melepaskan dahaga haus anda dengan cairan vagina dengan kata lain hubungan seksual oral–vagina baik pasangan hetero maupun ganda putri (lesbian)..
-         Bila Anda tidak dapat meninggalkan kegemaran tersebut, maka berlindunglah dengan jaket karet atau kondom.
4.    Air Susu Ibu.
-         Bagi pengidap HIV sebaiknya jangan menyusukan bayinya.
-         Bagi bayi-bayi raksasa (kaum adam) penggemar susu segar sebaiknya jangan berganti-ganti kandang untuk memerah susu.
-         Perahlah susu segar yang ada dikandang sendiri agar Anda aman
Demikianlah sumbangsih tulisan ini menyambut Hari AIDS Sedunia semoga dapat sedikit merubah perilaku Anda.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar