Hari ini, Sabtu 12 November 2011, Hari Kesehatan Nasional ke-47 tingkat Provinsi Sulawesi Tengah diperingati dengan tema “Sulawesi Tengah Cinta sehat, Mari Kita Cegah Schistosomiasis Dengan Berperilaku Hidup Bersih dan Sehat”. Peringatan ini dipusatkan di Kompleks Laboratorium Scsistosomiasis Kec. Lore Utara Kab. Poso. Tema yang diangkat dan tempat peringatan ada kata ‘Schistosomiasis’. Apa dan bagaimana Schistosomiasis mungkin bagi komunitas yang berkecimpung di lingkungan kesehatan tidak asing lagi, namun bagaimana dengan kaum awam yang mungkin termasuk yang berisiko terserang penyakit ini. Schistosomiasis adalah penyakit khas Sulawesi Tengah. Melalui media ini saya mencoba menulis secara gamblang tentang Schistosomiasis, semoga tulisan ini dapat menyegarkan kita kembali akan penyakit ini.
schisto, demikianlah namanya disebut sehari-hari di kalangan Medis atau di Lingkungan Kesehatan umumnya, cukup keren mirip nama orang. Akan tetapi siapa yang menyangka ini adalah panggilan untuk seekor cacing kecil yaitu Schistosoma. Cacing ini di Indonesia hanya bisa ditemukan di dataran tinggi Lindu dan Napu sekitar Danau Lindu termasuk wilayah Taman Nasional Lore Lindu Sulawesi Tengah dengan nama Schistosoma japonicum. Meski kecil, tetapi kalua si schisto ini sudah berada di dalam tubuh manusia, si penderita akan mengalami berbagai variasi gejala seperti ; keracunan, disentri, penurunan berat badan sehingga kurus yang berlebihan, hingga pada pembengkakan hati yang bisa diakhiri dengan kematian. Penularannya tidak seperti proses cacingan yang sering kita dengar dan alami yang masuk ke tubuh manusia dari mulut, tetapi langsung menembus pori-pori kulit mengikuti aliran darah menuju ke jantung dan paru-paru untuk selanjutnya menuju hati kemudian ke kandung kemih dan usus untuk menetap dan berkembang biak di sana.
Schistosomiasis dikenal juga sebagai bilharziasis atau demam siput atau demam keong ; adalah penyakit infeksi parasit yang disebabkan oleh cacing pipih (cacing pita) dari beberapa spesies dari genus Schistosoma yang memiliki habitat pada pembuluh darah di sekitar usus atau kandung kemih. Infeksi shistosoma dapat menimbulkan gejala-gejala yang bersifat umum seperti gejala keracunan, disentri , penurunan berat badan , penurunan nafsu makan, kekurusan dan lambatnya pertumbuhan pada anak-anak. Sedang pada penderita yang sudah kronis dapat menimbulkan perdarahan saluran kemih, perdarahan usus atau pembengkakan hati yang umumnya berakhir dengan kematian. Meskipun memiliki tingkat kematian rendah, Schistosomiasis merupakan penyakit kronis yang dapat merusak organ-organ dalam tubuh dan pada anak-anak dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan sehingga penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Penyebaran Schistosomiasis sangat luas di daerah tropis maupun subtropis. Diperkirakan penyakit ini menginfeksi 200 juta sampai 300 juta orang di 79 negara dan sebanyak 600 juta orang mempunyai resiko terinfeksi. Di Indonesia schistosomiasis pada manusia hanya ditemukan di daerah dataran tinggi Napu dan Lindu, sekitar Danau Lindu dan Taman Nasional Lore Lindu Sulawesi Tengah.
Siklus hidup dari semua spesies schistosoma yang menginfeksi manusia sangat mirip. Schistosoma menginfeksi orang masuk melalui kulit. Schistosoma yang masuk dalam bentuk serkaria (cercaria) yang mempunyai ekor. Parasit tersebut mengalami transformasi yaitu dengan cara membuang ekornya dan berubah menjadi cacing. Selanjutnya cacing ini menembus jaringan bawah kulit dan memasuki pembuluh darah menuju ke jantung dan paru-paru untuk selanjutnya ke hati. Di dalam hati orang yang terinfeksi, cacing-cacing tersebut menjadi dewasa dalam bentuk jantan dan betina. Pada tingkat ini, tiap cacing betina memasuki celah tubuh cacing jantan dan tinggal di dalam hati orang yang terinfeksi tersebut. Pada akhirnya pasangan-pasangan cacing Schistosoma bersama-sama pindah ke tempat tujuan terakhir yakni pembuluh darah vena usus kecil atau pembuluh darah vena kandung kemih yang merupakan tempat persembunyian bagi pasangan cacing Schistosoma sekaligus tempat bertelur (perkembangbiakan siklus seksual).
Telur parasit cacing Schistosoma yang dilepaskan ke lingkungan alam bebas dari kotoran atau kemih orang yang terinfeksi, akan menetas setelah kontak dengan air segar dan melepaskan cacing dalam bentuk mirasidium (miracidium) yang berenang bebas di air. Miracidium menginfeksi siput air tawar jenis Oncomelania sebagai hospes perantara dengan menembus kaki siput. Mirasidium yang tidak mendapatkan hospes perantara akan mati dalam waktu 48-72 jam. Hospes perantara Schistosoma japonicum adalah keong jenis Oncomelania hupensis lindoensis. Habitat primer siput Oncomelania hupensis lindoensis adalah areal di antara hutan lindung Lore-Lindu dan dataran rendah serta areal di tengah hutan yang berawa yang selalu digenangi air. Setelah masuk ke siput, mirasidium tersebut berubah menjadi sporocyst primer (ibu). Kemudian sporocyst primer akan mulai berkembang biak (siklus aseksual) memproduksi sporocysts sekunder (putri), yang bermigrasi ke hepatopancreas siput (hati dan pankreas). Setelah di hepatopancreas itu, sporocyst sekunder mulai berkembang biak lagi, kali ini menghasilkan ribuan parasit baru, yang dikenal sebagai serkaria, merupakan larva yang mampu menginfeksi mamalia termasuk manusia. Serkaria dikeluarkan setiap hari dari tuan rumah siput dalam irama sirkadian (siklus waktu tertentu), tergantung pada suhu lingkungan dan cahaya. Serkaria muda yang sangat mobil, berenang ke permukaan air dan menyelam untuk mempertahankan posisi mereka di dalam air. Kegiatan Cercarial terutama dirangsang oleh turbulensi air, oleh bayangan dan bahan kimia yang ditemukan pada kulit manusia. Selanjutnya serkaria akan menginfeksi manusia atau hewan vertebra lainnya sebagai hospes definitif.
Spesies Schistosoma yang dapat menginfeksi manusia adalah ; Schistosoma haematobium yang menyebabkan Schistosomiasis saluran kemih dan Schistosoma japonicum, Schistosoma mekongi, Schistosoma mansoni, Schistosoma intercalatum yang menyebabkan Schistosomiasis usus dan hati.
Ketika Schistosoma (serkaria) pertama kali memasuki kulit, akan timbul gatal-gatal dengan sedikit bengkak dan warna kemerahan yang biasa dikenal sebagai gatal perenang. Sekitar 4 - 8 minggu kemudian ketika cacing pita dewasa mulai bertelur, akan muncul gejala demam, panas-dingin, nyeri otot, lelah, rasa tidak nyaman yang samar (malaise), mual, dan nyeri perut. Pembuluh getah bening bisa membesar untuk sementara waktu, kemudian kembali normal. Kumpukan gejala-gejala ini biasa disebut demam katayama. Gejala-gejala lain selanjutnya bergantung pada organ-organ yang terkena. Jika pembuluh darah pada usus terinfeksi secara kronis gejala dapat berupa perut tidak nyaman, nyeri, dan pendarahan sedikit-sedikit (terlihat pada kotoran), yang bisa mengakibatkan anemia (kekurangan sel darah merah). Jika hati terkena dapat menyebabkan peningkatan tekanan pada pembuluh darah hati sehingga terjadi pembesaran hati dan limpa atau muntah darah dalam jumlah banyak. Jika kandung kemih terinfeksi secara kronis akan terasa sangat nyeri, sering berkemih, kemih berdarah dan dapat meningkatkan resiko terkena kanker kandung kemih. Jika otak atau tulang belakang terinfeksi secara kronis (jarang terjadi) akan timbul kejang-kejang atau kelemahan otot.
Diagnosis Schistosomiasis dapat dimulai dengan menanyakan tempat tinggal atau riwayat bepergian dari daerah-daerah endemis Schistosomiasis. Harus ditanyakan pula apakah mereka telah berenang atau menyeberangi air alam. Untuk memastikan diagnosa dengan memeriksa telur-telur pada sampel kotoran atau urin penderita. Biasanya, diperlukan beberapa sampel kotoran dan urin. Pemeriksaan imunologis darah bisa dilakukan untuk memastikan apakah seseorang telah terinfeksi dengan Schistosoma, tetapi tes tersebut tidak dapat mengindikasikan seberapa berat infeksi atau seberapa lama orang tersebut telah terinfeksi. Kadangkala, dibutuhkan pengambilan sampel jaringan (biopsi) usus atau jaringan kantung kemih untuk diteliti telur-telur di bawah mikroskop. Ultrasonografi (USG) bisa digunakan untuk mengukur seberapa berat Schistosomiasis pada saluran kemih atau hati.
Pengobatan spesifik Shistosomiasis masih menggunakan Praziquantel oral selama satu hari terbagi dalam 2 atau 3 dosis. Disamping itu dapat diberikan pengobatan penunjang lainnya sesuai dengan berat-ringannya penyakit dan komplikasi yang menyertainya. Schistosomiasis paling baik dicegah dengan menghindari berenang, mandi, atau menyeberang di air alam di daerah yang diketahui mengandung Schistosoma. Pengendalian Schistosomiasis di Sulawesi Tengah diawali tahun 1974 melalui pengobatan penderita, pemberantasan siput sebagai hospes perantara dengan molusida dan melalui agroengineering. Program pengendalian dilanjutkan dengan program pengendalian yang lebih intensif dengan melibatkan berbagai institusi dimulai pada tahun 1982. Program ini mampu menekan tingkat infeksi. Walaupun secara umum program pengendalian berhasil menekan angka infeksi, akan tetapi dengan adanya orang yang masih terinfeksi menunjukkan reinfeksi masih terus berlangsung dan infeksi Schistosoma masih mengancam penduduk pada dua wilayah tersebut. Reinfeksi masih berlangsung dimungkinkan karena masih adanya sumber infeksi yang berasal dari hewan reservoar (hewan yang terinfeksi misalnya sapi, babi dan lain-lain) dan kebiasan manusia yang memungkinkan kontak dengan larva infektif (serkaria) sehingga infeksi berlangsung secara terus-menerus. Selama ini program pengendalian yang telah dilakukan belum melibatkan hewan yang dapat bertindak sebagai reservoar yang akan menjadi sumber penularan bagi manusia. Schistosoma japonicum selain menginfeksi manusia juga dapat menginfeksi hewan mamalia. Schistosomiasis dapat ditularkan dari manusia ke hewan mamalia dan dari hewan mamalia ke manusia melalui perantaraan siput Oncomelania hupensis lindoensis.


