Sabtu, 12 November 2011

SCHISTOSOMIASIS - Khas Sulawesi Tengah


Hari ini, Sabtu 12 November 2011, Hari Kesehatan Nasional ke-47 tingkat Provinsi Sulawesi Tengah diperingati dengan tema “Sulawesi Tengah Cinta sehat, Mari Kita Cegah Schistosomiasis Dengan Berperilaku Hidup Bersih dan Sehat”. Peringatan ini dipusatkan di Kompleks Laboratorium Scsistosomiasis Kec. Lore Utara Kab. Poso. Tema yang diangkat dan tempat peringatan ada kata ‘Schistosomiasis’. Apa dan bagaimana Schistosomiasis mungkin bagi komunitas yang berkecimpung di lingkungan kesehatan tidak asing lagi, namun bagaimana dengan kaum awam yang mungkin termasuk yang berisiko terserang penyakit ini. Schistosomiasis adalah penyakit khas Sulawesi Tengah. Melalui media ini saya mencoba menulis secara gamblang tentang Schistosomiasis, semoga tulisan ini dapat menyegarkan kita kembali akan penyakit ini.
          schisto, demikianlah namanya disebut sehari-hari di kalangan Medis atau di Lingkungan Kesehatan umumnya, cukup keren mirip nama orang. Akan tetapi siapa yang menyangka ini adalah panggilan untuk seekor cacing kecil yaitu Schistosoma.  Cacing ini di Indonesia hanya bisa ditemukan di dataran tinggi Lindu dan Napu sekitar Danau Lindu termasuk wilayah Taman Nasional Lore Lindu Sulawesi Tengah dengan nama Schistosoma japonicum. Meski kecil, tetapi kalua si schisto ini sudah berada di dalam tubuh manusia, si penderita akan mengalami berbagai variasi gejala seperti ; keracunan, disentri, penurunan berat badan sehingga kurus yang berlebihan, hingga pada pembengkakan hati yang bisa diakhiri dengan kematian. Penularannya tidak seperti proses cacingan yang sering kita dengar dan alami yang masuk ke tubuh manusia  dari mulut, tetapi langsung menembus pori-pori kulit mengikuti aliran darah menuju ke jantung dan paru-paru untuk selanjutnya menuju hati kemudian ke kandung kemih dan usus untuk menetap dan berkembang biak di sana.  

Schistosomiasis dikenal juga sebagai bilharziasis atau demam siput atau demam keong ; adalah penyakit infeksi parasit yang disebabkan oleh cacing pipih (cacing pita) dari beberapa spesies dari genus Schistosoma yang memiliki habitat pada pembuluh darah di sekitar usus atau kandung kemih.  Infeksi shistosoma dapat menimbulkan gejala-gejala yang bersifat umum seperti gejala keracunan, disentri , penurunan berat badan , penurunan nafsu makan, kekurusan dan lambatnya pertumbuhan pada anak-anak. Sedang pada penderita yang sudah kronis dapat menimbulkan perdarahan saluran kemih, perdarahan usus atau pembengkakan hati yang umumnya berakhir dengan kematian. Meskipun memiliki tingkat kematian rendah, Schistosomiasis merupakan penyakit kronis yang dapat merusak organ-organ dalam tubuh dan pada anak-anak dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan sehingga penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Penyebaran Schistosomiasis sangat luas di daerah tropis maupun subtropis. Diperkirakan penyakit ini menginfeksi 200 juta sampai 300 juta orang di 79 negara dan sebanyak 600 juta orang mempunyai resiko terinfeksi. Di Indonesia schistosomiasis pada manusia hanya ditemukan di daerah dataran tinggi Napu dan Lindu, sekitar Danau Lindu dan Taman Nasional Lore Lindu Sulawesi Tengah.
 
Siklus hidup dari semua spesies schistosoma yang menginfeksi manusia sangat mirip. Schistosoma menginfeksi orang masuk melalui kulit. Schistosoma yang masuk dalam bentuk serkaria (cercaria) yang mempunyai ekor. Parasit tersebut mengalami transformasi yaitu dengan cara membuang ekornya dan berubah menjadi cacing. Selanjutnya cacing ini menembus jaringan bawah kulit dan memasuki pembuluh darah menuju ke jantung dan paru-paru untuk selanjutnya ke hati. Di dalam hati orang yang terinfeksi, cacing-cacing tersebut menjadi dewasa dalam bentuk jantan dan betina. Pada tingkat ini, tiap cacing betina memasuki celah tubuh cacing jantan dan tinggal di dalam hati orang yang terinfeksi tersebut. Pada akhirnya pasangan-pasangan cacing Schistosoma bersama-sama pindah ke tempat tujuan terakhir yakni pembuluh darah vena usus kecil atau pembuluh darah vena kandung kemih yang merupakan tempat persembunyian bagi pasangan cacing Schistosoma sekaligus tempat bertelur (perkembangbiakan siklus seksual).  
Telur parasit cacing Schistosoma yang dilepaskan ke lingkungan alam bebas  dari kotoran atau kemih orang yang terinfeksi, akan menetas setelah kontak dengan air segar dan melepaskan cacing dalam bentuk mirasidium (miracidium) yang berenang bebas di air. Miracidium menginfeksi siput air tawar jenis Oncomelania sebagai hospes perantara dengan menembus kaki siput. Mirasidium yang tidak mendapatkan hospes perantara akan mati dalam waktu 48-72 jam. Hospes perantara Schistosoma japonicum adalah keong jenis Oncomelania hupensis lindoensis. Habitat primer siput Oncomelania hupensis lindoensis adalah areal di antara hutan lindung Lore-Lindu dan dataran rendah serta areal di tengah hutan yang berawa yang selalu digenangi air.  Setelah masuk ke siput, mirasidium tersebut berubah menjadi sporocyst primer (ibu). Kemudian sporocyst primer akan mulai berkembang biak (siklus aseksual) memproduksi sporocysts sekunder (putri), yang bermigrasi ke hepatopancreas siput (hati dan pankreas). Setelah di hepatopancreas itu, sporocyst sekunder mulai berkembang biak lagi, kali ini menghasilkan ribuan parasit baru, yang dikenal sebagai serkaria, merupakan larva yang mampu menginfeksi mamalia termasuk manusia. Serkaria dikeluarkan setiap hari dari tuan rumah siput dalam irama sirkadian (siklus waktu tertentu), tergantung pada suhu lingkungan dan cahaya. Serkaria muda yang sangat mobil, berenang ke permukaan air dan menyelam untuk mempertahankan posisi mereka di dalam air. Kegiatan Cercarial terutama dirangsang oleh turbulensi air, oleh bayangan dan bahan kimia yang ditemukan pada kulit manusia. Selanjutnya serkaria akan menginfeksi manusia atau hewan vertebra lainnya sebagai hospes definitif.
Spesies Schistosoma yang dapat menginfeksi manusia adalah ; Schistosoma haematobium yang menyebabkan Schistosomiasis saluran kemih dan Schistosoma japonicum, Schistosoma mekongi, Schistosoma mansoni, Schistosoma intercalatum yang menyebabkan Schistosomiasis usus dan hati.
Ketika Schistosoma (serkaria) pertama kali memasuki kulit, akan timbul gatal-gatal dengan sedikit bengkak dan warna kemerahan yang biasa dikenal sebagai gatal perenang. Sekitar 4 - 8 minggu kemudian ketika cacing pita dewasa mulai bertelur, akan muncul gejala demam, panas-dingin, nyeri otot, lelah, rasa tidak nyaman yang samar (malaise), mual, dan nyeri perut. Pembuluh getah bening bisa membesar untuk sementara waktu, kemudian kembali normal. Kumpukan gejala-gejala ini biasa disebut demam katayama. Gejala-gejala lain selanjutnya bergantung pada organ-organ yang terkena. Jika pembuluh darah pada usus terinfeksi secara kronis gejala dapat berupa perut tidak nyaman, nyeri, dan pendarahan sedikit-sedikit (terlihat pada kotoran), yang bisa mengakibatkan anemia (kekurangan sel darah merah). Jika hati terkena dapat menyebabkan peningkatan tekanan pada pembuluh darah hati sehingga terjadi  pembesaran hati dan limpa atau muntah darah dalam jumlah banyak.  Jika kandung kemih terinfeksi secara kronis akan terasa sangat nyeri, sering berkemih, kemih berdarah dan dapat meningkatkan resiko terkena kanker kandung kemih. Jika otak atau tulang belakang terinfeksi secara kronis (jarang terjadi) akan timbul kejang-kejang atau kelemahan otot.
Diagnosis Schistosomiasis dapat dimulai dengan menanyakan tempat tinggal atau riwayat bepergian dari daerah-daerah endemis Schistosomiasis. Harus ditanyakan  pula apakah mereka telah berenang atau menyeberangi air alam. Untuk memastikan diagnosa dengan memeriksa telur-telur pada sampel kotoran atau urin penderita. Biasanya, diperlukan beberapa sampel kotoran dan urin. Pemeriksaan imunologis darah bisa dilakukan untuk memastikan apakah seseorang telah terinfeksi dengan Schistosoma, tetapi tes tersebut tidak dapat mengindikasikan seberapa berat infeksi atau seberapa lama orang tersebut telah terinfeksi. Kadangkala, dibutuhkan pengambilan sampel jaringan (biopsi) usus atau jaringan kantung kemih untuk diteliti telur-telur di bawah mikroskop. Ultrasonografi (USG) bisa digunakan untuk mengukur seberapa berat Schistosomiasis pada saluran kemih atau hati.
Pengobatan spesifik Shistosomiasis masih menggunakan Praziquantel oral selama satu hari terbagi dalam 2 atau 3 dosis. Disamping itu dapat diberikan pengobatan penunjang lainnya sesuai dengan berat-ringannya penyakit dan komplikasi yang menyertainya. Schistosomiasis paling baik dicegah dengan menghindari berenang, mandi, atau menyeberang di air alam di daerah yang diketahui mengandung Schistosoma. Pengendalian Schistosomiasis di Sulawesi Tengah diawali tahun 1974 melalui pengobatan penderita, pemberantasan siput sebagai hospes perantara dengan molusida dan melalui agroengineering. Program pengendalian dilanjutkan dengan program pengendalian yang lebih intensif dengan melibatkan berbagai institusi dimulai pada tahun 1982. Program ini mampu menekan tingkat infeksi. Walaupun secara umum program pengendalian berhasil menekan angka infeksi, akan tetapi dengan adanya orang yang masih terinfeksi menunjukkan reinfeksi masih terus berlangsung dan infeksi Schistosoma masih mengancam penduduk pada dua wilayah tersebut. Reinfeksi masih berlangsung dimungkinkan karena masih adanya sumber infeksi yang berasal dari hewan reservoar (hewan yang terinfeksi misalnya sapi, babi dan lain-lain) dan kebiasan manusia yang memungkinkan kontak dengan larva infektif (serkaria) sehingga infeksi berlangsung secara terus-menerus. Selama ini program pengendalian yang telah dilakukan belum melibatkan hewan yang dapat bertindak sebagai reservoar yang akan menjadi sumber penularan bagi manusia. Schistosoma japonicum selain menginfeksi manusia juga dapat menginfeksi hewan mamalia. Schistosomiasis dapat ditularkan dari manusia ke hewan mamalia dan dari hewan mamalia ke manusia melalui perantaraan siput Oncomelania hupensis lindoensis.

Selasa, 08 November 2011

DBD (Demam Berdarah Dengue) - Diagnosis Laboratorium


PENDAHULUAN
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue, terutama menyerang anak-anak dengan gejala demam tinggi mendadak disertai manifestasi perdarahan dan bertendensi menimbulkan renjatan (shock) dan kematian.
Penyebab penyakit ini ialah virus dengue yang sampai sekarang telah dikenal ada 4 tipe (tipe 1,2,3 dan 4), termasuk dalam group B Arthropod Borne Viruses (Arbovirosis).
Orang yang terinfeksi virus dengue, dalam tubuhnya akan terbentuk zat anti (antibodi) yang spesifik sesuai dengan tipe virus dengue yang masuk. Gejala atau tanda yang timbul ditentukan oleh reaksi antara antibodi yang ada dalam tubuh dengan antigen yang ada dalam virus dengue yang baru masuk. Orang yang terinfeksi virus dengue untuk pertama kali, umumnya hanya menderita sakit demam dengue atau demam yang ringan dengan gejala dan tanda yang tidak spesifik atau bahkan tidak memperlihatkan tanda-tanda sakit sama sekali (asymtomatic). Penderita demam dengue biasanya akan sembuh sendiri dalam waktu 5 hari tanpa pengobatan. Akan tetapi apabila orang sebelumnya sudah pernah terinfeksi virus dengue, kemudian terinfeksi lagi virus dengue dengan tipe lain maka orang tersebut dapat terserang penyakit demam berdarah dengue (infeksi sekunder).
Patofisiologi utama yang menentukan beratnya penyakit ialah ; Meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah, menurunnya volume plasma darah, terjadi hipotensi, trombositopenia dan diatesis hemoragik
Diagnosis penyakit DBD (Modifikasi# Kriteria WHO)
1.      Demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus menerus selama 2-7 hari
2.      Tanda-tanda perdarahan
3.      Pembesaran hati
4.      Trombositopenia (150.000# atau kurang)
5.      Hemokonsentrasi ; hematokrit meningkat sebanyak 20% atau lebih dibanding nilai selama perawatan.
Penerapan kriteria ini 87% diagnosis tepat setelah dikonfirmasi dengan tes imunologi.
PEMERIKSAAN LABORATORIUM DBD
            Pemeriksaan laboratorium DBD yang digunakan untuk menunjang diagnosis sesuai kriteria adalah hitung trombosit dan nilai hematokrit dilanjutkan dengan tes konfirmasi. Namun demikian dengan melihat gejala dan tanda serta patofisiologi DBD pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan adalah :
1.      Yang non spesifik :
-          Utama  
       * penetapan nilai hematokrit  ; meningkat  ≥ 20%
       * hitung trombosit  ; menurun ≤ 150.000 / µl
   -  Lain-lain
                       * hitung lekosit ; biasanya lekositosis sedang atau lekopenia dengan  
   limfositosis atau monositosis relatif
      * albumin serum ; biasanya menurun
      * natrium serum ; biasanya menurun
      * transaminase (GOT, GPT) ; biasanya meningkat
      * urea ; biasanya meningkat
2.      Yang spesifik :
-          Tes imunologi
-          Isolasi virus,deteksi virus atau komponen virus
Tes Laboratorium DBD Non Spesifik
a. Penetapan Nilai Hematokrit
            Merupakan salah satu pemeriksaan hematologi untuk mengetahui volume eritrosit dalam 100 ml darah, yang dinyatakan dalam %. Nilai ini biasanya dipakai untuk mengetahui ada tidaknya anemia dan digunakan untuk menghitung nilai eritrosit rata-rata. Pada kasus DBD volume plasma berkurang oleh karena terjadi eksudasi plasma akibat meningkatnya permeabilitas pembuluh darah sehingga volume eritrosit relatif meningkat.  Meningkatnya nilai hematokrit pada kasus DBD merupakan indikator yang peka terhadap akan terjadinya renjatan. Oleh karena itu perlu dilakukan berulang secara periodik terutama di antara hari ketiga dan hari ke tujuh sakit. Penetapan nilai hematokrit dapat dilakukan dengan cara makro dan cara mikro. Cara makro menggunakan tabung Wintrobe dan saat ini sudah jarang dipakai. Cara mikro menggunakan pipet kapiler yang panjangnya 75 mm dan diameter dalamnya 1 mm. Pipet ini ada 2 jenis yaitu yang dilapisi antikoagulan untuk darah kapiler dan yang tidak dilapisi dengan antikoagulan digunakan untuk darah vena.  Untuk memanpatkan eritrosit dilakukan sentrifus selama 3-5 menit dengan kecepatan 4000 rpm/menit.
Nilai normal atau nilai rujukan hematokrit :
- Anak-anak                          : 33-38 vol%
- Dewasa laki                        : 40-48 vol%
- Dewasa perempuan         : 37-43 vol%
Kesalahan yang mungkin terjadi
1.      Persiapan penderita misalnya puasa. Dua jam setelah makan volume plasma meningkat dan setelah gerak badan volume plasma berkurang.
2.      Posisi pasien saat pengambilan sampel ; berdiri volume plasma berkurang, berbaring volume plasma bertambah 10-15 %.
3.      Jarum yang dipakai terlalu kecil, eritrosit lisis
4.      Pembendungan yang terlalu lama menjadi hemokonsentrasi
5.      Tetesan pertama darah kapiler tidak dibuang ; mengandung cairan interstisiel
6.      Pipet kapiler yang mengandung heparin cepat rusak bila tidak disimpan di lemari es.
7.      Terlalu banyak anti koagulan ; eritrosit mengkerut
8.      Sebagian darah membeku ; eritrosit terjebak dalam bekuan darah
9.      Bahan tidak dicampur homogen
10.  Ujung pipet disumbat dengan cara dibakar ; eritrosit lisis
11.  Alat sentrifus menjadi panas sehingga terjadi hemolisis
12.  Terjadi penguapan plasma selama sentrifus
13.  Pemeriksaan ditunda lebih dari 6 jam
14.  Kecepatan dan lama sentrifus sudah tidak sesuai
15.  Lapisan buffy coat tidak turut dibaca
16.  Pembacaan yang salah
17.  Kesalahan menulis hasil
            Saat ini nilai hematokrit sudah dapat dihitung dengan alat penghitung otomatis sehingga beberapa faktor kesalahan dapat dihindari.
b. Hitung Trombosit
         Pada kasus DBD trombosit akan menurun jumlahnya di bawah 150.000 / µl. Penurunan ini biasanya ditemukan di antara hari ketiga dan hari ketujuh.  Hitung trombosit perlu diulang sampai kita yakin jumlahnya dalam batas normal atau menunjang diagnosis DBD.  Pemeriksaan dilakukan minimal dua kali yaitu pada waktu pasien masuk dan apabila normal diulang pada hari kelima sakit. Bila perlu diulang lagi pada hari keenam dan ketujuh sakit.
         Pemeriksaan hitung sel darah termasuk trombosit saat ini sudah menggunakan alat penghitung otomatis yang dikenal dengan Electronic Cell Counter.  Dengan alat ini penghitungan menjadi lebih mudah, cepat dan teliti dibandingkan dengan cara manual. Walaupun demikian hitung sel darah cara manual masih dipertahankan. Hal ini disebabkan karena dapat dilakukan di laboratorium yang tidak mempunyai aliran listrik, alat hitung sel otomatis harganya sangat mahal dan cara manual masih merupakan metode rujukan untuk pemeriksaan hitung trombosit.  
Kesalahan Yang mungkin terjadi
  1. Obat yang dipakai pasien misalnya ; suntikan adrenalin meningkatkan jumlah lekosit dan trombosit
  2. Alat yang dipakai ; volume pipet tidak tepat, kamar hitung yang kotor atau basah dan tidak menggunakan kaca penutup yang khusus.
  3. Teknik ; volume sampel tidak tepat misalnya tidak menghapus darah di luar pipet, tidak terjadi pencampuran yang homogen dan kamar hitung tidak diisi dengan benar.
  4. Jumlah sel yang dihitung terlalu sedikit.
  5. Kesalahan menulis hasil.
Penghitungan jumlah trombosit dapat juga dilakukan secara tidak langsung dengan melihat gambaran apusan darah tepi. Penilaian ini bersifat semikuantitatif namun beberapa pusat perawatan melakukan evaluasi dengan cara ini.
Penghitungan dengan cara manual faktor kesalahannya mencapai 15-30 %, dengan menggunakan alat otomatis kesalahan dapat diperkecil.
Tes Laboratorium DBD Yang Spesifik
A. Tes Laboratorium Imunologi
1.     Hemaglutination Inhibition Test (HI Test)
 Diagnosa ditegakkan bila (WHO 1974) :
1.      Titer HI Test pada fase akut akan meningkat 4 kali atau lebih pada fase rekonvalesensi
2.      Titer HI Test pada fase akut 1/1.280 atau lebih dan fase rekonvalesensi tidak naik atau bila naik tidak perlu sampai 4 kali (presumtif diagnosa).
3.      Reaksi HI Test à positif primer bila titer fase akut < 1/20 dan akan meningkat sampai 4 kali atau lebih pada fase rekonvalesensi, akan tetapi titer rekonvalesensi < 1/2.560
4.      Reaksi HI Test à positif sekunder bila titer fase akut < 1/20 dan meningkat dalam fase rekonvalesensi sampai 1/2.560 atau lebih atau dalam fase akut titer HI Test 1/20 atau lebih dan meningkat 4 kali atau lebih pada fase rekonvalesensi.
HI Test sekarang ini makin jarang digunakan.
2.     Dengue Blot test
      Cara kerja
-          Spesimen yang berupa filter paper dilarutkan dengan kaolin 12,5% untuk memperoleh serum berupa sepernatan
-          Spesimen yang berbentuk darah vena atau darah kapiler dapat langsung diperiksa
-          Antigen dengue yang berbentuk kertas (tersedia dalam kit diletakkan pada sumur piring ELISA)
-          Pada sumur piring ELISA tambahkan 50 ul supernatan atau serum sampau kertas antigen terendam. Setelah 60 menit dilakukan pencucian dengan cara membilas dengan akuades. Setelah itu ditambahkan buffer pencuci yang dibuat dari bahan yang tersedia dalam kit, selanjutnya tambahkan larutan konjugate. Setelah 60 menit sumur-sumur piring ELISA dibilas dengan akuades, dan ditambahkan larutan substrate (tersedia dalam kit).
-           Pembacaan hasil dilakukan 30 menit kemudian.
  Interpretasi
-          Positif  : bila terbentuk cincin biru / ungu pada kertas antigen dengan intensitas lebih jelas atau sama dengan kontrol.
-          Negatif  : bila tidak terbentuk cincin berwarna atau intensitas warna kurang jelas dibandingkan dengan kontrol.
Dengue Blot Test juga sudah jarang dilakukuan di laboratorium klinik.
Konfirmasi selama ini dilakukan dengan HI Test. Sampel diambil dari darah kapiler yang ditampung dengan filter paper sebanyak 2 kali. Pertama waktu penderita masuk RS, kedua waktu penderita meninggalkan RS atau pulang. Sampel dikirim dan diperiksa di Balai Laboratorium Kesehatan.
3.  Tes Imunologi Antibodi Spesifik
           Tes imunologi ini didasarkan atas timbulnya antibodi pada penderita yang terjadi   setelah infeksi.
           Pada infeksi primer antibodi yang pertama kali muncul adalah IgM yaitu sekitar hari ke-5 setelah infeksi, naik untuk 1-3 minggu dan bertahan sampai hari ke 60-90. Antibodi IgG akan muncul sekitar hari ke-14 dan bertahan lama sekali mungkin seumur hidup.
           Pada infeksi sekunder justru antibodi IgG yang akan muncul atau naik tinggi terlebih dahulu yaitu pada hari ke-2, baru diikuti dengan antibodi IgM pada hari ke-5 (yang tidak begitu tinggi).
           Dengan demikian untuk infeksi primer diagnosis dini dimungkinkan setelah hari ke-5 infeksi menggunakan tes imunologi IgM anti Dengue. Pada infeksi sekunder dagnosis dini dapat dilakukan setelah hari ke-2 infeksi menggunakan tes imunologi IgG Anti Dengue. Dengan cara ini hanya dibutuhkan satu sampel saja yaitu darah akut sehingga diagnosis akan ditegakkan lebih cepat. Test IgM anti Dengue dan IgG anti Dengue sekarang ini makin banyak dilakukan di laboratorium klinik oleh karena cepat, mudah dan praktis.
      B. Isolasi Virus
Isolasi virus belum biasanya dilakukan di laboratorium klinik, hanya dilakukan di laboratorium riset. Hal ini oleh karena kesulitan teknis dan biayanya masih terlalu mahal.

Sekian……….

HbA1c ; MANFAAT PEMERIKSAAANNYA PADA PENDERITA DM

PENDAHULUAN
Diabetes mellitus (DM) secara klinis didefinisikan sebagai suatu keadaan yang diakibatkan oleh defisiensi insulin absolut atau relatif yang dapat berkembang ke arah hiperglikemia dan sering dihubungkan dengan komplikasi mikrovaskular dan makrovaskular spesifik. Diagnosis klinis DM akan dipikirkan bila ada keluhan khas DM berupa poliuria, polidipsia, polifagia, lemah dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya. Pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosis DM adalah ; glukosa darah puasa, glukosa darah sewaktu, glukosa darah postprandial (pp), dan tes toleransi glukosa oral (TTGO). Diagnosis DM ditegakkan melalui suatu rangkaian atau alur pemeriksaan laboratorium yang telah ditetapkan melalui suatu kesepakatan atau konvensi dari lembaga atau perhimpunan yang berdasarkan penelitian-penelitian para ahli.
Pengobatan atau pengendalian penderita DM bertujuan untuk mendapatkan kadar glukosa darah yang tetap normal atau mendekati normal. Hal ini berdasarkan anggapan bahwa kontrol diabetik yang optimal merupakan sarana untuk mencegah atau menunda komplikasi DM jangka panjang seperti neuropati, retinopati, nefropati dan mikroangiopati atau makroangiopati (aterosklerosis). Untuk pemantauan hasil pengobatan DM dapat dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah puasa, glukosa darah sewaktu, glukosa darah pp, glukosa darah kurva harian dan HbA1c serta fruktosamin.  Kadar lemak darah juga telah dimasukkan sebagai panel pemeriksaan pemantauan hasil pengobatan.  Kadar HbA1c dapat menggambarkan kadar glukosa 2-3 bulan sebelumnya. Karena itu telah dimasukkan dalam panel pemantauan hasil pengobatan.

KORELASI HbA1c DENGAN KADAR GLUKOSA DARAH

HbA1c merupakan kombinasi glukosa dan hemoglobin dewasa (HbA). Hemoglobin terdiri dari 4 rantai polipeptida (globin), masing-masing mengandung satu gugus heme. Hemoglobin utama yang ditemukan pada orang dewasa normal adalah HbA. HbA2 dan HbF berada dalam jumlah kecil.
Tabel 1 : Normal Human Hemoglobins
No
Name
Designation
Molecular
Structure
Adults (%)
Newborns
1
2
3
Adult hemoglobin
Hemoglobin A2
Fetal hemoglobin
Hb A
Hb A2
Hb F
a2 b2
a2 d2
a2 g2
97
2,5
< 1
20
O,5
80

HbA bereaksi dengan glukosa (atau karbohidrat lain atau turunannya) membentuk hemoglobin terglikosilasi yang dikenal dengan nama HbA1. Ada 3 macam subfraksi HbA1 yaitu HbA1a (HbA + fruktosa 1,6-difosfat atau HbA + glukosa-6-fosfat), HbA1b (HbA + tidak diketahui) dan HbA1c (HbA + glukosa). HbA1c merupakan fraksi yang paling penting dan kira-kira mencapai 70% dari total HbA1.
Tabel 2 : Glycosylated Hemoglobins in Normal and Diabetic Individual
No
Hemoglobin
b-Terminal Group
Normal (%)
Diabetes (%)
1

2
3
HbA1a1
HbA1a2
HbA1b
HbA1c
Fructose 1,6-diphosphate
Glucose-6-phosphate
Unknown
Glucose
0,19
0,19
O,48
3,3
0,2
0,22
0,67
7,5
Mean ± 1 SD, 20 normal subjects and 75 adult diabetics.
Hemoglobin terglikosilasi berakumulasi dalam sel darah merah dan berada dalam bentuk ini selama masa hidup sel. Eritrosit yang bersirkulasi mempunyai waktu paruh rata-rata 60 hari, sehingga kadar HbA1c tidak berubah dengan cepat. Sejumlah peneliti telah menunjukkan korelasi antara HbA1c dan pemeriksaan glukosa darah.  Jumlah HbA1c ini berhubungan langsung dengan kadar glukosa darah rata-rata dalam darah. Pada orang normal 3-6% HbA-nya terglikosilasi, sedangkan pada penderita DM persen HbA1c dapat mencapai 2 atau bahkan sampai 3 kali lipat, tergantung derajat hiperglikemia.
Dengan menormalkan kadar glukosa darah pada penderita DM, nilai HbA1c secara perlahan-lahan akan mendekati normal. Nilai HbA1c tunggal yang diperiksa setiap 2-3 bulan sekali memberikan indeks kontrol glukosa darah terintegrasi selama bulan-bulan tersebut dan para klinisi dapat melihat secara obyektif kualitas pengendalian penderita DM.

MANFAAT PEMERIKSAAN HbA1c PADA PENDERITA DM

Tujuan dari terapi DM adalah untuk mendapatkan kadar glukosa darah yang tetap normal atau mendekati normal. Hemoglobin terglikosilasi telah diakui sebagai permeriksaan yang menggambarkan kadar glukosa darah harian rata-rata dan derajat ketidak seimbangan karbohidrat dua bulan yang lalu (lebih baik dari kadar gula darah puasa ).
Tabel 3 : Kriteria Pengendalian DM
No
Parameter Tes
Baik
Sedang
Buruk
1
Glukosa darah puasa
Glukosa darah 2 jam pp
80 –120
80 – 160
120 –140
160 - 200
> 140
> 200
2
HbA1c
4 – 6
6 – 8
> 8
3
Kolesterol total
Kolesterol-HDL
Trigliserida :
- tanpa PJK
- dengan PJK
< 200
> 40

< 200
< 150
200 – 240
35 – 40

200 – 400
< 200
> 240
< 35

> 400
> 200

HbA1c merupakan kombinasi glukosa dan hemoglobin dewasa (HbA). Jumlah hemoglobin dewasa yang terglikosilasi membentuk HbA1c berhubungan langsung dengan kadar glukosa darah rata-rata dalam darah. Tidak seperti tes urine dan glukosa darah, yang dipengaruhi oleh keadaan saat pemeriksaan.misalnya diet yang ketat menjelang pemeriksaan. Pemeriksaan HbA1c tidak dipengaruhi oleh kadar glukosa darah saat itu, tapi merupakan indikator kadar glukosa darah rata-rata beberapa bulan sebelumnya.
Kadar HbA1c menggambarkan kontrol glikemik kadar glukosa 2-3 bulan sebelumnya. Karena itu dianjurkan untuk diperiksa setiap 3 bulan sekali, setidaknya 2 kali setahun. Fruktosamin mengambarkan kadar glukosa 2-3 minggu sebelumnya. Penggunaan kombinasi kedua pemeriksaan yakni HbA1c dan fruktosamin bermanfaat karena walaupun keduanya serupa menggambarkan kontrol glikemik tetapi berbeda jangka waktu kadar glukosa yang digambarkannya. Kadar fruktosamin berguna untuk memantau yang lebih cepat sedangkan HbA1c untuk jangka waktu yang lebih lama.

FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HASIL HbA1c
Ada beberapa keadaan dimana salah satu parameter terpengaruh, sedangkan yang lainnya tidak misalnya kadar HbA1c terganggu / tidak tepat pada keadaan dengan anemia hemolitik, hemoglobinopati, dan hemakromatosis serta retikulositosis. Thalasemia dan hemoglobinopati seperti Hb C, Hb S, Hb E, dll yang menyebabkan usia eritrosit memendek menyebabkan penurunan kadar HbA1c. Pada cara kromatografi penukar kation Hb C dan Hb S terhitung pada Hb total dan menurunkan hasil perhitungan HbA1c. Sebaliknya Hb F, Hb H dan Hb Bart mungkin menyebabkan HbA1c tinggi palsu, tergantung pada cara analisis.  

PENUTUP
Pemeriksaan HbA1c merupakan salah satu tes dalam panel pemantauan hasil pengobatan DM. Kadar HbA1c dapat menggambarkan kadar glukosa darah rata-rata dalam 2-3 bulan sebelumnya dan tidak dipengaruhi oleh kadar glukosa darah saat pemeriksaan. Pemeriksaan HbA1c dianjurkan 3 bulan sekali atau minimal 2 kali setahun.
…………………………………….wmh………………………………………….